TUJUH MITOS KEPEMIMPINAN
Untuk menjadi seorang Pemimpin, potensi sebenarnya ada dalam
setiap individu dengan mampu menonjolkan kelebihan dan mengatasi kelemahan yang
dimiliki, karena setiap manusia memiliki kelebihan maupun kekurangannya, oleh
sebab itu masing-masing harus mengetahui kelebihan yang menjadi kekuatan maupun
kelemahannya. Sebelum menemukannya, ada “Tujuh Mitos Kepemimpinan” yang harus
diketahui. Ketujuh mitos tersebut perlu dipahami, disadari dan dipelajari.
1.
The
Position Myth : ”I can’t lead if I am not the top”.
Tidak sedikit yang mengatakan bahwa
kepemimpinan munculnya dari suatu posisi yang menentukan, yaitu datangnya dari
pada posisi puncak yang telah diraih. Sebenarnya tidak demikian adanya. Anda tidak
perlu memiliki posisi tertentu di puncak dari suatu kelompok, organisasi, dan
bahkan untuk memimpin. Apabila anda berpikir demikian, berarti anda harus
memiliki posisi puncak terlebih dahulu. Dengan berada di puncak, bukan berarti
seseorang otomatis menjadi pemimpin. Karena ukurannya bahwa memiliki
kepemimpinan berarti memiliki pengaruh kepada orang lain atau kepada
bawahannya, walaupun dia memiliki posisi tertentu, dia hanya dikenal sebagai
pejabat karena posisinya, bukan sebagai pemimpin. Banyak yang mengatakan bahwa
para pejabat yang duduk pada posisi penting karena telah ditunjuk, tidak
berarti memiliki kepemimpinan, sehingga mereka selayaknya tidak disebut sebagai
pemimpin. Bisa disebut pemimpin apabila memiliki pengaruh terhadap anak buahnya
(influence). Untuk meningkatkan
pengaruh anda, anda harus belajar dengan berupaya untuk membangun hubungan
dengan orang lain yang anda inginkan, sehingga mampu mempengaruhinya. Dengan cara
demikian, anda akan belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin. Adanya kedudukan
atau posisi, tidak berarti secara otomatis anda memiliki kepemimpinan. “it’s because : leadership is a choice you
make, not a place you sit”.
2.
The
Destination Myth : “When I get to the top, then I Will learn to lead”.
Pada tahun 2003, seseorang bernama Charlie
Wetzel memutuskan untuk mencapai suatu tujuan yaitu memenangkan lari maraton di
Amerika Serikat. Apabila anda melihat postur Charlie, anda tidak akan mengira
dan percaya bahwa dia adalah seorang pelari. Pada majalah olahraga Amerika
Serikat umumnya memuat suatu artikel bahwa pelari maraton tingginya sekitar 5 ft dan 10 inch dengan berat badan tidak lebih dari 165 lbs (atau sekitar 80 kg) berat Charlie pada waktu itu sekitar 205 lbs (sekitar 100 kg). Namun demikian dia
rajin berlatih secara rutin, rata-rata mencapai sekitar 20 – 25 miles setiap minggu dan selalu
mengikuti perlombaan maraton 2 – 3 kali setiap tahun. Charlie memutuskan untuk
mengikuti perlombaan maraton di Chicago yang diadakan setiap tanggal 12
Oktober, dengan berlatih 6 bulan sebelum perlombaan diadakan, berupaya meningkatkan
jarak setiap minggunya dan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan pada saat
perlombaan maraton dilaksanakan, akhirnya Charlie mendapatkan Juara Pertama!
Hal ini bisa terjadi karena motivasi yang tinggi. “You can if you think you can”. Pertanyaannya “bagaimana anda akan
menjadi seorang yang anda inginkan” jawabannya adalah anda harus memulainya
sekarang dan jangan terlambat yaitu dengan mengadopsi pemikiran tentang leadership, belajar dengan tekun,
berlatih, dan mengembangkan kebiasaan yang berkaitan dengan kepemimpinan
terutama dengan situasi yang akan anda hadapi nanti.
-
“When
opportunity comes, it’s too late to prepare”
-
“if you
want to be a succsessful leader, learn to lead before you’ve a leadership
position”
3.
The
Influence Myth : “If I were on the top, then the people would follow me”.
Ketika Mantan Presiden America Serikat Thomas
Woodrow Wilson menunjuk seorang sekretaris (secretary of labor) di Istana
Presiden. Bersama sang isteri, sekretaris tersebut tidak merasa bangga dengan
jabatan baru yang diberikan Presidennya. Dan sang isteri menyampaikan kepada
Presiden, dengan mengatakan bahwa: “Mr.
President, my husband is perfect for his vacant position. Please consider him
when you appoint the new secretary of labor”, kemudian Presiden Wilson
menjawab : “I appreciate your
recommendation, but you must remember, the secretary of labor is an important
position, it is requires an influential person”. Setelah menganalisa apa
yang disampaikan Sang Presiden, maknanya adalah bahwa seseorang dapat menjamin
orang lain mempunyai posisi, akan tetapi tidak bisa menjamin bahwa seseorang
tersebut memiliki leadership. Daya pengaruh
adalah merupakan kunci dari kepemimpinan. “a
position doesn’t make a leader, but leader can make the position”.
4.
The
Inexperience Myth : “When I get to the top, I’ll be in control”.
Adanya keinginan untuk ber-inovasi,
meningkatkan diri dan berkreatifitas, semuanya adalah karakteristik dari leadership. Namun demikian, ada makna
negatif. Karena tanpa memiliki suatu pengalaman sebagai seseorang yang pernah
duduk pada posisi puncak, anda terkesan sebagai orang yang dinilai overestimate. Semakin tinggi kedudukan
anda dan semakin besar organisasi yang anda miliki – anda harus menyadari bahwa
ada banyak faktor untuk dapat mengendalikan organisasi. Masalahnya adalah
ketika anda berada pada posisi puncak, anda memerlukan pengaruh untuk dapat
mengumpulkan anak buah. Posisi anda sebenarnya tidak bisa memberikan kendali
secara total – atau bahkan yang dapat melindungi anda secara penuh. Yang terpenting
adalah bahwa menjadi pemimpin puncak akan memiliki permasalahan dan tantangan
tersendiri. Di sunia leadership
dimana saja disetiap organisasi, pada posisi bawah sekalipun dapat mempengaruhi
orang lain. Oleh karenanya, masukan-masukan yang bagaimanapun kecilnya dari
tingkat bawah, perlu mendapatkan perhatian yang serius.
5.
The
Freedom Myth : “When I get to the top, I’ll no longer be limited”.
Pada banyak organisasi, ketika anda
berhasil menduduki tangga yang lebih tinggi, anda akan mendapatkan sejumlah
tanggung jawab yang menuntut kemampuan dan kecepatan bertindak, “When you go higher, more is expected of you,
the pressure is greater, and the impact of your desisions weights more havily”.
Apabila anda menjadi “seorang pemimpin tertinggi”, anda akan menyadari bahwa
anggota tim anda akan mencoba bekerja dengan menggunakan caranya sendiri, untuk
tujuan memaksimalkan potensinya demi organisasi yang dia pimpin. Apabila posisi anda meningkat lagi, yang jelas kebutuhan
anda juga akan lebih meningkat lagi. Anda akan memaklumi bahwa anda harus bisa
bekerja sama dengan institusi lain yang mungkin berbeda dan bahkan yang
memiliki permasalahan tersendiri, kemampuan tersendiri, dan kultur yang
berbeda. Pemimpin yang baik, harus memiliki perhatian dan selalu berkomunikasi
dengan bawahannya. Menemukan permasalahan apa saja yang ada dibawah dan adanya
perubahan yang mungkin terjadi, diharapkan anda mampu memberikan empowering kepada mereka untuk tujuan
keberhasilan bersama.
6.
The
Potential Myth : “I can’t reach my potential if I’m not the top leader”.
Beberapa anak-anak mempunyai cita-cita dan
bergumam bahwa “suatu hari ketika saya besar, saya akan menjadi seorang
presiden”. Pada kenyataannya, mayoritas orang yang tidak menduduki jabatan top leader disuatu organisasi,
memanfaatkan masa depannya dimana saja, namun pada organisasi kelas menengah,
itu saja sebenarnya sudah cukup. Pertanyaannya, apakah setiap upaya meniti career untuk mencapai puncak? Yang
terjadi, kemungkinan anda akan mendapatkan kesempatan yang paling besar dari
pada posisi yang pertama. Contoh yang sangat baik adalah Mantan Wakil Presiden Amerika
Serikat Dick Cheney. Dia menikmati career-nya
yang sangat menakjubkan di dunia politik. Pada masa Presiden Gerand Ford,
beliau dipercaya sebagai Kepala Staf Gedung Putih, pada masa Presiden George
Bush, beliau dipercaya sebagai Menteri Pertahanan, dan pada masa Presiden
George Bush untuk kedua kalinya, beliau dipercaya lagi sebagai Wakil Presiden. Pada
suatu masa, beliau ingin mencoba mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika
Serikat. Namun kemudian dia menyadari bahwa pada posisi puncak bukan menjadi
Perannya yang terbaik. Teman dekatnya berkata “You plug him in, and he works anywhere. He just has a real good way of
fitting in working his environtment” dan akhirnya beliau menyadari dan
menemukan jati dirinya sebagai seseorang yang mengetahui benar bagaimana
kemampuan dirinya untuk mempengaruhi orang lain dari posisi manapun, ini
merupakan gambaran dari seseorang yang mengetahui kelemahan dan kekuatannya
untuk menjadi pemimpin.
7.
The
All-or-Nothing Myth : “If I can’t get to the top, I won’t to lead”.
Dalam sebuah organisasi, ketika menyadari
bahwa tidak bisa menjadi yang paling atas dan akhirnya menyerah. Attitude mereka digambarkan sebagaimana
pemain sepakbola “Apabila saya tidak bisa menjadi kapten dalam tim sepakbola,
lebih baik saya mengambil bola saya dan pulang kerumah saja”. Pada kondisi
seperti ini, mengindikasikan bahwa dia telah menunjukkan rasa frustasi karena
posisinya yang tidak berada pada puncak. Mengapa? Karena dia telah menentukan
dirinya akan berhasil berada pada posisi puncak, sehingga dia berpikir tidak
akan berhasil. Ketika rasa frustasi ini berkepanjangan, mereka menjadi enggan,
jengkel dan berperasaan sinis. Apabila demikian adanya, biasanya mereka akan
menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak berpengaruh.
Well,
ini kesimpulan setelah banyak membaca banyak buku dan artikel dan melihat media
support lain mengenai “Leadership”. Semoga
memberikan pencerahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar