Sabtu, 11 April 2015

SEVEN MYTH OF LEADERSHIP

TUJUH MITOS KEPEMIMPINAN


Untuk menjadi seorang Pemimpin, potensi sebenarnya ada dalam setiap individu dengan mampu menonjolkan kelebihan dan mengatasi kelemahan yang dimiliki, karena setiap manusia memiliki kelebihan maupun kekurangannya, oleh sebab itu masing-masing harus mengetahui kelebihan yang menjadi kekuatan maupun kelemahannya. Sebelum menemukannya, ada “Tujuh Mitos Kepemimpinan” yang harus diketahui. Ketujuh mitos tersebut perlu dipahami, disadari dan dipelajari.

1.       The Position Myth : ”I can’t lead if I am not the top”.
Tidak sedikit yang mengatakan bahwa kepemimpinan munculnya dari suatu posisi yang menentukan, yaitu datangnya dari pada posisi puncak yang telah diraih. Sebenarnya tidak demikian adanya. Anda tidak perlu memiliki posisi tertentu di puncak dari suatu kelompok, organisasi, dan bahkan untuk memimpin. Apabila anda berpikir demikian, berarti anda harus memiliki posisi puncak terlebih dahulu. Dengan berada di puncak, bukan berarti seseorang otomatis menjadi pemimpin. Karena ukurannya bahwa memiliki kepemimpinan berarti memiliki pengaruh kepada orang lain atau kepada bawahannya, walaupun dia memiliki posisi tertentu, dia hanya dikenal sebagai pejabat karena posisinya, bukan sebagai pemimpin. Banyak yang mengatakan bahwa para pejabat yang duduk pada posisi penting karena telah ditunjuk, tidak berarti memiliki kepemimpinan, sehingga mereka selayaknya tidak disebut sebagai pemimpin. Bisa disebut pemimpin apabila memiliki pengaruh terhadap anak buahnya (influence). Untuk meningkatkan pengaruh anda, anda harus belajar dengan berupaya untuk membangun hubungan dengan orang lain yang anda inginkan, sehingga mampu mempengaruhinya. Dengan cara demikian, anda akan belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin. Adanya kedudukan atau posisi, tidak berarti secara otomatis anda memiliki kepemimpinan. “it’s because : leadership is a choice you make, not a place you sit”.

2.       The Destination Myth : “When I get to the top, then I Will learn to lead”.
Pada tahun 2003, seseorang bernama Charlie Wetzel memutuskan untuk mencapai suatu tujuan yaitu memenangkan lari maraton di Amerika Serikat. Apabila anda melihat postur Charlie, anda tidak akan mengira dan percaya bahwa dia adalah seorang pelari. Pada majalah olahraga Amerika Serikat umumnya memuat suatu artikel bahwa pelari maraton tingginya sekitar 5 ft dan 10 inch dengan berat badan tidak lebih dari 165 lbs (atau sekitar 80 kg) berat Charlie pada waktu itu sekitar 205 lbs (sekitar 100 kg). Namun demikian dia rajin berlatih secara rutin, rata-rata mencapai sekitar 20 – 25 miles setiap minggu dan selalu mengikuti perlombaan maraton 2 – 3 kali setiap tahun. Charlie memutuskan untuk mengikuti perlombaan maraton di Chicago yang diadakan setiap tanggal 12 Oktober, dengan berlatih 6 bulan sebelum perlombaan diadakan, berupaya meningkatkan jarak setiap minggunya dan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan pada saat perlombaan maraton dilaksanakan, akhirnya Charlie mendapatkan Juara Pertama! Hal ini bisa terjadi karena motivasi yang tinggi. “You can if you think you can”. Pertanyaannya “bagaimana anda akan menjadi seorang yang anda inginkan” jawabannya adalah anda harus memulainya sekarang dan jangan terlambat yaitu dengan mengadopsi pemikiran tentang leadership, belajar dengan tekun, berlatih, dan mengembangkan kebiasaan yang berkaitan dengan kepemimpinan terutama dengan situasi yang akan anda hadapi nanti.
-          “When opportunity comes, it’s too late to prepare”
-          “if you want to be a succsessful leader, learn to lead before you’ve a leadership position”

3.       The Influence Myth : “If I were on the top, then the people would follow me”.
Ketika Mantan Presiden America Serikat Thomas Woodrow Wilson menunjuk seorang sekretaris (secretary of labor) di Istana Presiden. Bersama sang isteri, sekretaris tersebut tidak merasa bangga dengan jabatan baru yang diberikan Presidennya. Dan sang isteri menyampaikan kepada Presiden, dengan mengatakan bahwa: “Mr. President, my husband is perfect for his vacant position. Please consider him when you appoint the new secretary of labor”, kemudian Presiden Wilson menjawab : “I appreciate your recommendation, but you must remember, the secretary of labor is an important position, it is requires an influential person”. Setelah menganalisa apa yang disampaikan Sang Presiden, maknanya adalah bahwa seseorang dapat menjamin orang lain mempunyai posisi, akan tetapi tidak bisa menjamin bahwa seseorang tersebut memiliki leadership. Daya pengaruh adalah merupakan kunci dari kepemimpinan. “a position doesn’t make a leader, but leader can make the position”.

4.       The Inexperience Myth : “When I get to the top, I’ll be in control”.
Adanya keinginan untuk ber-inovasi, meningkatkan diri dan berkreatifitas, semuanya adalah karakteristik dari leadership. Namun demikian, ada makna negatif. Karena tanpa memiliki suatu pengalaman sebagai seseorang yang pernah duduk pada posisi puncak, anda terkesan sebagai orang yang dinilai overestimate. Semakin tinggi kedudukan anda dan semakin besar organisasi yang anda miliki – anda harus menyadari bahwa ada banyak faktor untuk dapat mengendalikan organisasi. Masalahnya adalah ketika anda berada pada posisi puncak, anda memerlukan pengaruh untuk dapat mengumpulkan anak buah. Posisi anda sebenarnya tidak bisa memberikan kendali secara total – atau bahkan yang dapat melindungi anda secara penuh. Yang terpenting adalah bahwa menjadi pemimpin puncak akan memiliki permasalahan dan tantangan tersendiri. Di sunia leadership dimana saja disetiap organisasi, pada posisi bawah sekalipun dapat mempengaruhi orang lain. Oleh karenanya, masukan-masukan yang bagaimanapun kecilnya dari tingkat bawah, perlu mendapatkan perhatian yang serius.

5.       The Freedom Myth : “When I get to the top, I’ll no longer be limited”.
Pada banyak organisasi, ketika anda berhasil menduduki tangga yang lebih tinggi, anda akan mendapatkan sejumlah tanggung jawab yang menuntut kemampuan dan kecepatan bertindak, “When you go higher, more is expected of you, the pressure is greater, and the impact of your desisions weights more havily”. Apabila anda menjadi “seorang pemimpin tertinggi”, anda akan menyadari bahwa anggota tim anda akan mencoba bekerja dengan menggunakan caranya sendiri, untuk tujuan memaksimalkan potensinya demi organisasi yang dia pimpin. Apabila posisi  anda meningkat lagi, yang jelas kebutuhan anda juga akan lebih meningkat lagi. Anda akan memaklumi bahwa anda harus bisa bekerja sama dengan institusi lain yang mungkin berbeda dan bahkan yang memiliki permasalahan tersendiri, kemampuan tersendiri, dan kultur yang berbeda. Pemimpin yang baik, harus memiliki perhatian dan selalu berkomunikasi dengan bawahannya. Menemukan permasalahan apa saja yang ada dibawah dan adanya perubahan yang mungkin terjadi, diharapkan anda mampu memberikan empowering kepada mereka untuk tujuan keberhasilan bersama.

6.       The Potential Myth : “I can’t reach my potential if I’m not the top leader”.
Beberapa anak-anak mempunyai cita-cita dan bergumam bahwa “suatu hari ketika saya besar, saya akan menjadi seorang presiden”. Pada kenyataannya, mayoritas orang yang tidak menduduki jabatan top leader disuatu organisasi, memanfaatkan masa depannya dimana saja, namun pada organisasi kelas menengah, itu saja sebenarnya sudah cukup. Pertanyaannya, apakah setiap upaya meniti career untuk mencapai puncak? Yang terjadi, kemungkinan anda akan mendapatkan kesempatan yang paling besar dari pada posisi yang pertama. Contoh yang sangat baik adalah Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Dick Cheney. Dia menikmati career-nya yang sangat menakjubkan di dunia politik. Pada masa Presiden Gerand Ford, beliau dipercaya sebagai Kepala Staf Gedung Putih, pada masa Presiden George Bush, beliau dipercaya sebagai Menteri Pertahanan, dan pada masa Presiden George Bush untuk kedua kalinya, beliau dipercaya lagi sebagai Wakil Presiden. Pada suatu masa, beliau ingin mencoba mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat. Namun kemudian dia menyadari bahwa pada posisi puncak bukan menjadi Perannya yang terbaik. Teman dekatnya berkata “You plug him in, and he works anywhere. He just has a real good way of fitting in working his environtment” dan akhirnya beliau menyadari dan menemukan jati dirinya sebagai seseorang yang mengetahui benar bagaimana kemampuan dirinya untuk mempengaruhi orang lain dari posisi manapun, ini merupakan gambaran dari seseorang yang mengetahui kelemahan dan kekuatannya untuk menjadi pemimpin.

7.       The All-or-Nothing Myth : “If I can’t get to the top, I won’t to lead”.
Dalam sebuah organisasi, ketika menyadari bahwa tidak bisa menjadi yang paling atas dan akhirnya menyerah. Attitude mereka digambarkan sebagaimana pemain sepakbola “Apabila saya tidak bisa menjadi kapten dalam tim sepakbola, lebih baik saya mengambil bola saya dan pulang kerumah saja”. Pada kondisi seperti ini, mengindikasikan bahwa dia telah menunjukkan rasa frustasi karena posisinya yang tidak berada pada puncak. Mengapa? Karena dia telah menentukan dirinya akan berhasil berada pada posisi puncak, sehingga dia berpikir tidak akan berhasil. Ketika rasa frustasi ini berkepanjangan, mereka menjadi enggan, jengkel dan berperasaan sinis. Apabila demikian adanya, biasanya mereka akan menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak berpengaruh.


Well, ini kesimpulan setelah banyak membaca banyak buku dan artikel dan melihat media support lain mengenai “Leadership”. Semoga memberikan pencerahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar